Tuesday, May 31, 2016

studi agama



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Manusia merupakan makhluk yang memiliki peradaban.hal ini dapat dibuktikan  sejak zaman manusia purba sampai zaman manusia modern. keunikan dalam hal peradaban ini tidak dimiliki oleh makhluk-makhluk lainnya. sehinnga para ilmuwan tertarik untuk mempelajari tentang manusia. Dan ilmu yang mempelajari manusia disebuat antropologi.
B.     Rumusan Masalah
1.        Apa Pengertian Antropologis?
2.        Bagaimana Objek Kajian Antropologi Agama?
3.        Bagaimana Pendekatan Etnologis-Antropologis?
4.        Bagaimana Metode Antropologi Agama?
5.        Apa Manfaat Antropologi Agama?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Ingin mengetahui Pengertian Antropologis
2.      Agar memahami Objek Kajian Antropologi Agama
3.      ingin mengetahui pendekatan Etnologis-Antropologis
4.      untuk mengetahui Metode Antropologi Agama
5.      ingin mengetahui Manfaat Antropologi Agama






BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Antropologis
Antropologi merupakan ilmu yang mengkaji manusia dan budayanya. Tujuannya adalah agar memperoleh pemahaman tentang totalitas manusia sebagai makhluk, baik di masa lampau maupun sekarang., baik sebagai organisme biologis maupun sebagai makhluk berbudaya.[1]
Antropologi Budaya memfokuskan perhatiannya pada kebudayaan manusia ataupuncara hidupnya dalam masyarakat. Antropologi budaya juga merupakan studi tentang praktik-praktik sosial,bentuk-bentuk ekspresif, dan penggunaan bahasa, dimana makna diciptakan dan diuji sebelum digunakan oleh masyarakat manusia.
Para antropolog mengkaji sifat khas fisik manusia serta sifat khas budaya yang dimilikinya. Namun demikian para antropolog itu tidak berarti lengah akan manusia dewasa ini. Bahkan mereka itu mencoba untuk mendapatkan segala macam asal-usul fenomena manuisiawi, segala macam perkembangan, segala macam perubahan, segala macam antarhubungan, segala macam fungsi.Oleh karena itu antropologi itu tidak lebih daripada suatu usaha untuk memahami perikemanuisiaan melalui pengkajiaan karakteristik biologis manusia, terutama pengalaman sosialnya.
Ada dua pembagian penting di dalam lapangan antropologi yaitu antropologi fisikal dan antropologi kultural.antropologi fisikal menggarap aspek biologis manusia, baik dalam segi evaluasinya, variasinya serta adaptasinya. sedangkan antropologi Kultural adalah mengkaji budaya manusia, baik dalam sejarahnya, strukturnya serta fungsinya[2].
Banyak cabang atau kajian yang termasuk lapang kultural, seperti arkeologi yang mebicarakan tentang kultur yang tidak ada lagi serta tidak dijumpai lagi dalam catatan tertulis. dalam kajiannya, arkeologi berusaha merekonstruksikan semua kultur yang bersumberkan pada peninggalan bendawi. Adapun Linguistik, yang juga merupakan lapangan etnologi, berusaha menguraikan budaya manusia yang ada, baik mengenai kepercayaan-kepercayaam beserta pengalaman-pengalamannya yang diperoleh oleh individu maupun kelompok yang sekaligus membentuk budaya manuisia.[3]
B.     Objek Kajian Antropologi Agama
Objek yang dikaji oleh berbagai cabang dan ranting ilmu, dibedakan kepada dua ubjek yaitu objek material dan objek formal. Objek materi ialah apa yang dipelajari oleh suatu ilmu, ilmu sosial misalnya, mempelajari masyarakat. Sosiologi dan Antropologi sama-sama mempelajari masyarakat, tetapi sudut ditinjauan atau formalnya berbeda.Sosiologi, misalnya dari sudut struktur sosialnya.Sedangkan Antropologi dari sudut budaya mayarakat tersebut.Agama yang dipelajari Antropologi adalah agama sebagai fenomena budaya.Antropologi tidak membahas salah benarnya suatu agama dan segenap perangkatnya, seperti kepercayaan, ritual, dan kepercayaan keapada yang sakral.
Setiap unsur budaya terdiri dari tiga hal:
a.       Norma, nilai, keyakinan yang ada dalam pikiran, hati dan perasaan manusia pemilik kebudayaan tersebut.
b.      Pola tingkah laku yang dapat diamati dalam kehidupan nyata.
c.       Hasil material dari kreasi, pikiran dan perasaan manusia.
Harsojo Mengungkapkan bahwa kajian Antropologi terhadap agama dari dahulu sampai sekarang meliputi empat masalah pokok, yaitu:
a.       Dasar-dasar fundamental dari agama dan tempatnya dalam kehidupan manuisa.
b.      Bagaimana manusia yang hidup bermasyarakat memenuhi kebutuhan religius mereka.
c.       Darimana asal-usul agama.
d.      Bagaimana manifestasi perasaan dan kebutuhan religius agama.
Jadi ruang lingkup antropologi agama dengan permasalahan budaya antara lain:
Ø  Sejauh mana dapat ditarik batas antara agama dan budaya, sehingga dapat diketahui atau disepakati mana hak Allah dan mana hak manusia.
Ø  Bagaimana ajaran dan hasil pemikiran dan perilaku manusia yang menujukkan adanya perbedaan antara agama dan kepercayaan yang satu dan yang lain, yang merupakan objek kajian antropologi agama.[4]

C.    Pendekatan Etnologis-Antropologis
Etnologi adalah ilmu yang mebahas tentang ” bangsa-bangsa”, dan Etnologi tersebut juga suatu istilah yang telah lama dipakai sejak masa terjadinya antropologis. Istilah etnologi tersebut mulai ditinggalkan di megara-negara, hanya di Amerika dan Inggris masih dipakai untuk menyebut suatu bagian dari antropologi yang khusunya mempelajari tentang masalah-masalah  yang berhubungan dengan sejarah perkembangan kebudayaan manusia.
Etnologi juga bagian ilmu antropologi tentang asas-asas manusia, mempelajari kebudayaan-kebudayaan dalam kehidupan masyarakat dari bangsa-bangsa tertentu yang tersebar di muka bumi pada masa sekarang.
Pendekatan etnologi adalah etnografi, lebih memusatkan perhatiannya pada kebudayaan zaman sekarang, telaahnya pun terpusat pada perilaku manusia sebagaimana yang dapat disaksikan langsung, dialami, serta disaksikan dengan pendukung kebudayaan.
Pendekatan antropologis merupakan suatu pendekatan yang menggunakan  metode antropologi pada umumnya yang diantara cirinya bahwa objek  adalah sekelompok  manusia yang biasanya manusia sederhana  dalam kebulatan kehidupannya.Artinya meliputi seluruh aspek kebudayaanya.Artinya mengkaji manuisa serta budayanya.agama merupakan salah satu  aspek yang paling penting dari aspek-aspek budaya lainnya.
Obyek studi antropologi terhadap agama adalah model-model keagamaan atau bagian dari model-model keagamaan itu dari sekelompok manusia yang tertentu tempatnya. Model keagamaan itu misalnya, mite,  upacara, totem, magis dan sebagainya.[5]
Konsep antropologi tentang kebudayaan adalah segala topik yang jelas berbeda-beda akan dipersatukan oleh prinsip-prinsip metode antropologis. untuk mengetahui manusia secara keseluruhannya, salah satu prinsip metode antropologi adalah bahwa seluruh fenomena makhluk baik yang bersifat biologis, historis, linguistik, atau pun budaya itu harus dibawa ke dalam kaitannya antara yang satu dengan lainnya. menurut para antropolog cara ini disebut pendekatan holistik.
Para antropolog dalam hal kebudayaan bahwa mereka mengatakan kebudayaan mengandung dua pengertian.Dalam artian umum kebudayaan adalah keseluruhan sistem sosial yang diwarisi oleh manusia.Dalam artian sempit kebudayaan adalah tradisi kelompok manusia tertentu.Jadi konsep kebudayaan itu merupakan salah satu kunci yang paling penting dalam memahami tingkah laku manusia.
Dengan demikian tingkah laku manusia itu diperoleh dengan usaha dan dipelajari dulu.Tingkah itu tidak bersifat instingtif, tidak diwariskan melalui kelahiran.Tingkah laku manuisia merupakan hasil komunikasi dari satu generasi ke generasi lainnya.[6]
D.    Metode Antropologi Agama
Hilman Hadikusuma mengungkapkan metode ilmiah untuk menjawab persoalan dalam antropologi agama ada empat macam, antara lain:
1.      Metode Historis
            Menelusuri pikiran dan perilaku manusia tentang agamanya yang berlatarbelakang sejarah yaitu sejarah perkembangan “budaya agama” sejak masyarakat manusia masih sederhana budayanya sampai budaya agamanya yang sudah maju.
2.      Metode Normatif
            Dalam studi antropologi Agama dimaksudkan mempelajari norma-norma (kaidah-kaidah, patokan-patokan, atau sastra-sastra suci agama), maupun yang merupakan perilaku adat kebiasaan yang tradisional yang tetap berlaku, baik dalam hubungan manusia dengan alam ghaib maupun dalam hubungan antara sesama manusia yang bersumber dan berdasarkan ajaran agama amsing-masing.
3.      Metode Diskriptif
            Di dalam studi Antropologi Agama dimaksudkan ialah berusaha mencatat, melukiskan, menguraikan, melaporkan tentang buah pikiran sikap tindak dan perilaku manusia yang menyangkut agama dalam kenyataan yang impilist.
4.      Metode Empiris
            Dengan metode ini Antropologi Agama mempelajari pikiran sikap dan perilaku agama manusia yang diketemukan dari pengalaman dan kenyataan di lapangan.[7]




E.     Manfaat Antropologi Agama
Antropologi agamasebagai ilmu pengetahuan yang khusus berdiri sendiri, yang tidak lagi berada dalam kandungan antropologi budaya, manfaatnya guna memecahkan berbagai masalah keagamaan yang timbul dikalangan masyarakat.dengan demikan antropologi agama tidak saja bermanfaat untuk kebutuhan teoritis, tetapi juga untuk kebutuhan praktis.
          Sebagai ilmu tentang umat manusia, antropologi melalui pendekatan dan metode ilmiah berusaha menyusun sejumlah generalisasi yang bermakna tentang manusia dan perilakunya.Kedua bidang besar dari antropologi adalah antropologi fisik dan budaya.Antropologi fisik memusatkan perhatiannya pada manusia sebagai organisme biologis yang tekanannya pada upaya melacak evolusi perkembangan manusia dan mempelajari variasi-variasi biologis dalam species manusia.Sedangkan antropologi budaya berusaha mempelajari manusia berdasarkan kebudayaannya.Dimana kebudayaan dapat merupakan peraturan-peraturan atau norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.[8]









BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Antropologi merupakan ilmu yang mengkaji manusia dan budayanya. Tujuannya adalah agar memperoleh pemahaman tentang totalitas manusia sebagai makhluk, baik di masa lampau maupun sekarang., baik sebagai organisme biologis maupun sebagai makhluk berbudaya.Antropologi Budaya memfokuskan perhatiannya pada kebudayaan manusia ataupun cara hidupnya dalam masyarakat.
Sedangkan Etnologi adalah ilmu yang mebahas tentang ” bangsa-bangsa”.Pendekatan etnologi adalah etnografi, lebih memusatkan perhatiannya pada kebudayaan zaman sekarang, telaahnya pun terpusat pada perilaku manusia sebagaimana yang dapat disaksikan langsung, dialami, serta disaksikan dengan pendukung kebudayaan.
Pendekatan antropologis merupakan suatu pendekatan yang menggunakan  metode antropologi pada umumnya yang diantara cirinya bahwa objek  adalah sekelompok  manusia yang biasanya manusia sederhana  dalam kebulatan kehidupannya.Artinya meliputi seluruh aspek kebudayaanya. Artinya mengkaji manuisa serta budayanya.agama merupakan salah satu  aspek yang paling penting dari aspek-aspek budaya lainnya.
Obyek studi antropologi terhadap agama adalah model-model keagamaan atau bagian dari model-model keagamaan itu dari sekelompok manusia yangtertentu tempatnya. Model keagamaan itu misalnya, mite,  upacara, totem, magis dan sebagainya.
Konsep antropologi tentang kebudayaan adalah segala topik yang jelas berbeda-beda akan dipersatukan oleh prinsip-prinsip metode antropologis. untuk mengetahui manusia secara keseluruhannya, salah satu prinsip metode antropologi adalah bahwa seluruh fenomena makhluk baik yang bersifat biologis, historis, linguistik, atau pun budaya itu harus dibwa ke dalam kaitannya antara yang satu dengan lainnya. menurut para antropolog cara ini disebut pendekatan holistik.
DAFTAR PUSTAKA


Adeng Muchtar  Ghazali, Ilmu Studi Agama,Bandung: PUSTAKA SETIA, 2005.


Zakiah Daradjat, Perbandingan Agama 1, Jakarta: BUMI AKSARA, 1996.

Nurdinah Muhammad, dkk,  Ilmu Perbandingan Agama, Banda Aceh: Ar-Raniry Press, 2004.

Nurdinah Muhammad, Antropologi Agama, Banda Aceh: Ar-Raniry Press, 2007.


[1]Adeng Muchtar Ghazali, Ilmu Studi Agama, (Bandung: PUSTAKA SETIA, 2005). hal.113.
[2] Zakiah Daradjat, Perbandingan Agama 1, (Jakarta: BUMI AKSARA, 1996), hal. 2.
[3]adeng Muchtar Ghazali, Ilmu Studi Agama,… hal.114.

[4]Nurdinah Muhammad, Antropologi Agama, (Banda Aceh: Ar-Raniry Press, 2007), hal. 8-11.
[5]Nurdinah Muhammad, dkk,  Ilmu Perbandingan Agama,(Banda Aceh: Ar-Raniry Press, 2004) hal. 146-147.
[6]    Zakiah Daradjat, Perbandingan Agama 1, (Jakarta: BUMI AKSARA, 1996), hal. 3-4.
[7]Nurdinah Muhammad, Antropologi Agama,…hal. 16-18.
[8]Nurdinah Muhammad,Antropologi Agama,… hal. 18-16.

No comments:

Post a Comment