BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manusia merupakan makhluk yang memiliki
peradaban.hal ini dapat dibuktikan sejak
zaman manusia purba sampai zaman manusia modern. keunikan dalam hal peradaban
ini tidak dimiliki oleh makhluk-makhluk lainnya. sehinnga para ilmuwan tertarik
untuk mempelajari tentang manusia. Dan ilmu yang mempelajari manusia disebuat
antropologi.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa
Pengertian Antropologis?
2.
Bagaimana
Objek Kajian Antropologi Agama?
3.
Bagaimana
Pendekatan Etnologis-Antropologis?
4.
Bagaimana
Metode Antropologi Agama?
5.
Apa
Manfaat Antropologi Agama?
C. Tujuan Penulisan
1. Ingin mengetahui Pengertian Antropologis
2. Agar memahami Objek Kajian Antropologi
Agama
3. ingin mengetahui pendekatan
Etnologis-Antropologis
4. untuk mengetahui Metode Antropologi Agama
5. ingin mengetahui Manfaat Antropologi
Agama
A. Pengertian Antropologis
Antropologi merupakan ilmu yang mengkaji manusia dan
budayanya. Tujuannya adalah agar memperoleh pemahaman tentang totalitas manusia
sebagai makhluk, baik di masa lampau maupun sekarang., baik sebagai organisme
biologis maupun sebagai makhluk berbudaya.[1]
Antropologi Budaya memfokuskan perhatiannya pada kebudayaan manusia ataupuncara
hidupnya dalam masyarakat. Antropologi budaya juga merupakan studi tentang
praktik-praktik sosial,bentuk-bentuk ekspresif, dan penggunaan bahasa, dimana
makna diciptakan dan diuji sebelum digunakan oleh masyarakat manusia.
Para antropolog mengkaji sifat khas fisik manusia
serta sifat khas budaya yang dimilikinya. Namun demikian para antropolog itu
tidak berarti lengah akan manusia dewasa ini. Bahkan mereka itu mencoba untuk
mendapatkan segala macam asal-usul fenomena manuisiawi, segala macam
perkembangan, segala macam perubahan, segala macam antarhubungan, segala macam
fungsi.Oleh karena itu antropologi itu tidak lebih daripada suatu usaha untuk
memahami perikemanuisiaan melalui pengkajiaan karakteristik biologis manusia, terutama
pengalaman sosialnya.
Ada dua pembagian penting di dalam lapangan
antropologi yaitu antropologi fisikal dan antropologi kultural.antropologi
fisikal menggarap aspek biologis manusia, baik dalam segi evaluasinya, variasinya
serta adaptasinya. sedangkan antropologi Kultural adalah mengkaji budaya
manusia, baik dalam sejarahnya, strukturnya serta fungsinya[2].
Banyak cabang atau kajian yang termasuk lapang
kultural, seperti arkeologi yang mebicarakan tentang kultur yang tidak ada lagi
serta tidak dijumpai lagi dalam catatan tertulis. dalam kajiannya, arkeologi
berusaha merekonstruksikan semua kultur yang bersumberkan pada peninggalan
bendawi. Adapun Linguistik, yang juga merupakan lapangan etnologi, berusaha
menguraikan budaya manusia yang ada, baik mengenai kepercayaan-kepercayaam
beserta pengalaman-pengalamannya yang diperoleh oleh individu maupun kelompok
yang sekaligus membentuk budaya manuisia.[3]
B. Objek Kajian Antropologi Agama
Objek yang dikaji oleh berbagai cabang dan ranting
ilmu, dibedakan kepada dua ubjek yaitu objek material dan objek formal. Objek
materi ialah apa yang dipelajari oleh suatu ilmu, ilmu sosial misalnya,
mempelajari masyarakat. Sosiologi dan Antropologi sama-sama mempelajari
masyarakat, tetapi sudut ditinjauan atau formalnya berbeda.Sosiologi, misalnya
dari sudut struktur sosialnya.Sedangkan Antropologi dari sudut budaya mayarakat
tersebut.Agama yang dipelajari Antropologi adalah agama sebagai fenomena
budaya.Antropologi tidak membahas salah benarnya suatu agama dan segenap
perangkatnya, seperti kepercayaan, ritual, dan kepercayaan keapada yang sakral.
Setiap unsur budaya terdiri dari tiga hal:
a. Norma, nilai, keyakinan yang ada dalam
pikiran, hati dan perasaan manusia pemilik kebudayaan tersebut.
b. Pola tingkah laku yang dapat diamati
dalam kehidupan nyata.
c. Hasil material dari kreasi, pikiran dan
perasaan manusia.
Harsojo Mengungkapkan bahwa kajian Antropologi
terhadap agama dari dahulu sampai sekarang meliputi empat masalah pokok, yaitu:
a. Dasar-dasar fundamental dari agama dan
tempatnya dalam kehidupan manuisa.
b. Bagaimana manusia yang hidup
bermasyarakat memenuhi kebutuhan religius mereka.
c. Darimana asal-usul agama.
d. Bagaimana manifestasi perasaan dan
kebutuhan religius agama.
Jadi ruang lingkup antropologi agama dengan
permasalahan budaya antara lain:
Ø Sejauh mana dapat ditarik batas antara
agama dan budaya, sehingga dapat diketahui atau disepakati mana hak Allah dan
mana hak manusia.
Ø Bagaimana ajaran dan hasil pemikiran dan
perilaku manusia yang menujukkan adanya perbedaan antara agama dan kepercayaan
yang satu dan yang lain, yang merupakan objek kajian antropologi agama.[4]
C. Pendekatan Etnologis-Antropologis
Etnologi adalah ilmu yang mebahas tentang ” bangsa-bangsa”,
dan Etnologi tersebut juga suatu istilah yang telah lama dipakai sejak masa
terjadinya antropologis. Istilah etnologi tersebut mulai ditinggalkan di
megara-negara, hanya di Amerika dan Inggris masih dipakai untuk menyebut suatu
bagian dari antropologi yang khusunya mempelajari tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan sejarah perkembangan
kebudayaan manusia.
Etnologi juga bagian ilmu antropologi tentang asas-asas manusia,
mempelajari kebudayaan-kebudayaan dalam kehidupan masyarakat dari bangsa-bangsa
tertentu yang tersebar di muka bumi pada masa sekarang.
Pendekatan etnologi adalah etnografi, lebih memusatkan perhatiannya pada
kebudayaan zaman sekarang, telaahnya pun terpusat pada perilaku manusia
sebagaimana yang dapat disaksikan langsung, dialami, serta disaksikan dengan
pendukung kebudayaan.
Pendekatan antropologis merupakan suatu pendekatan
yang menggunakan metode antropologi pada
umumnya yang diantara cirinya bahwa objek
adalah sekelompok manusia yang
biasanya manusia sederhana dalam
kebulatan kehidupannya.Artinya meliputi seluruh aspek kebudayaanya.Artinya
mengkaji manuisa serta budayanya.agama merupakan salah satu aspek yang paling penting dari aspek-aspek
budaya lainnya.
Obyek studi antropologi terhadap agama adalah
model-model keagamaan atau bagian dari model-model keagamaan itu dari
sekelompok manusia yang tertentu tempatnya. Model keagamaan itu misalnya, mite,
upacara, totem, magis dan
sebagainya.[5]
Konsep antropologi tentang kebudayaan adalah segala
topik yang jelas berbeda-beda akan dipersatukan oleh prinsip-prinsip metode antropologis.
untuk mengetahui manusia secara keseluruhannya, salah satu prinsip metode
antropologi adalah bahwa seluruh fenomena makhluk baik yang bersifat biologis,
historis, linguistik, atau pun budaya itu harus dibawa ke dalam kaitannya
antara yang satu dengan lainnya. menurut para antropolog cara ini disebut
pendekatan holistik.
Para antropolog dalam hal kebudayaan bahwa mereka
mengatakan kebudayaan mengandung dua pengertian.Dalam artian umum kebudayaan
adalah keseluruhan sistem sosial yang diwarisi oleh manusia.Dalam artian sempit
kebudayaan adalah tradisi kelompok manusia tertentu.Jadi konsep kebudayaan itu
merupakan salah satu kunci yang paling penting dalam memahami tingkah laku
manusia.
Dengan demikian tingkah laku manusia itu diperoleh
dengan usaha dan dipelajari dulu.Tingkah itu tidak bersifat instingtif, tidak
diwariskan melalui kelahiran.Tingkah laku manuisia merupakan hasil komunikasi
dari satu generasi ke generasi lainnya.[6]
D. Metode Antropologi Agama
Hilman Hadikusuma mengungkapkan metode ilmiah untuk
menjawab persoalan dalam antropologi agama ada empat macam, antara lain:
1. Metode Historis
Menelusuri pikiran dan perilaku
manusia tentang agamanya yang berlatarbelakang sejarah yaitu sejarah
perkembangan “budaya agama” sejak masyarakat manusia masih sederhana budayanya
sampai budaya agamanya yang sudah maju.
2. Metode Normatif
Dalam studi antropologi Agama
dimaksudkan mempelajari norma-norma (kaidah-kaidah, patokan-patokan, atau
sastra-sastra suci agama), maupun yang merupakan perilaku adat kebiasaan yang
tradisional yang tetap berlaku, baik dalam hubungan manusia dengan alam ghaib
maupun dalam hubungan antara sesama manusia yang bersumber dan berdasarkan
ajaran agama amsing-masing.
3. Metode Diskriptif
Di dalam studi Antropologi Agama
dimaksudkan ialah berusaha mencatat, melukiskan, menguraikan, melaporkan
tentang buah pikiran sikap tindak dan perilaku manusia yang menyangkut agama
dalam kenyataan yang impilist.
4. Metode Empiris
Dengan metode ini Antropologi Agama
mempelajari pikiran sikap dan perilaku agama manusia yang diketemukan dari
pengalaman dan kenyataan di lapangan.[7]
E. Manfaat Antropologi Agama
Antropologi agamasebagai ilmu pengetahuan yang khusus
berdiri sendiri, yang tidak lagi berada dalam kandungan antropologi budaya,
manfaatnya guna memecahkan berbagai masalah keagamaan yang timbul dikalangan
masyarakat.dengan demikan antropologi agama tidak saja bermanfaat untuk
kebutuhan teoritis, tetapi juga untuk kebutuhan praktis.
Sebagai ilmu tentang umat manusia, antropologi melalui pendekatan dan metode
ilmiah berusaha menyusun sejumlah generalisasi yang bermakna tentang manusia
dan perilakunya.Kedua bidang besar dari antropologi adalah antropologi fisik
dan budaya.Antropologi fisik memusatkan perhatiannya pada manusia sebagai
organisme biologis yang tekanannya pada upaya melacak evolusi perkembangan
manusia dan mempelajari variasi-variasi biologis dalam species
manusia.Sedangkan antropologi budaya berusaha mempelajari manusia berdasarkan
kebudayaannya.Dimana kebudayaan dapat merupakan peraturan-peraturan atau
norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.[8]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Antropologi merupakan ilmu yang mengkaji manusia dan
budayanya. Tujuannya adalah agar memperoleh pemahaman tentang totalitas manusia
sebagai makhluk, baik di masa lampau maupun sekarang., baik sebagai organisme
biologis maupun sebagai makhluk berbudaya.Antropologi
Budaya memfokuskan perhatiannya pada kebudayaan manusia ataupun cara hidupnya
dalam masyarakat.
Sedangkan Etnologi adalah ilmu yang mebahas tentang
” bangsa-bangsa”.Pendekatan etnologi adalah etnografi, lebih memusatkan
perhatiannya pada kebudayaan zaman sekarang, telaahnya pun terpusat pada perilaku
manusia sebagaimana yang dapat disaksikan langsung, dialami, serta disaksikan
dengan pendukung kebudayaan.
Pendekatan antropologis merupakan suatu pendekatan
yang menggunakan metode antropologi pada
umumnya yang diantara cirinya bahwa objek
adalah sekelompok manusia yang
biasanya manusia sederhana dalam
kebulatan kehidupannya.Artinya meliputi seluruh aspek kebudayaanya. Artinya
mengkaji manuisa serta budayanya.agama merupakan salah satu aspek yang paling penting dari aspek-aspek
budaya lainnya.
Obyek studi antropologi terhadap agama adalah
model-model keagamaan atau bagian dari model-model keagamaan itu dari
sekelompok manusia yangtertentu tempatnya. Model keagamaan itu misalnya, mite,
upacara, totem, magis dan
sebagainya.
Konsep antropologi tentang kebudayaan adalah segala
topik yang jelas berbeda-beda akan dipersatukan oleh prinsip-prinsip metode
antropologis. untuk mengetahui manusia secara keseluruhannya, salah satu
prinsip metode antropologi adalah bahwa seluruh fenomena makhluk baik yang bersifat
biologis, historis, linguistik, atau pun budaya itu harus dibwa ke dalam
kaitannya antara yang satu dengan lainnya. menurut para antropolog cara ini
disebut pendekatan holistik.
DAFTAR
PUSTAKA
Adeng
Muchtar Ghazali, Ilmu Studi Agama,Bandung:
PUSTAKA SETIA, 2005.
Zakiah Daradjat, Perbandingan Agama 1, Jakarta: BUMI AKSARA,
1996.
Nurdinah Muhammad, dkk, Ilmu
Perbandingan Agama, Banda Aceh: Ar-Raniry Press, 2004.
Nurdinah
Muhammad, Antropologi Agama, Banda Aceh: Ar-Raniry Press, 2007.
[1]Adeng
Muchtar Ghazali, Ilmu Studi Agama, (Bandung: PUSTAKA SETIA, 2005).
hal.113.
[2]
Zakiah Daradjat, Perbandingan Agama 1, (Jakarta: BUMI AKSARA, 1996), hal.
2.
[3]adeng
Muchtar Ghazali, Ilmu Studi Agama,… hal.114.
[4]Nurdinah
Muhammad, Antropologi Agama, (Banda Aceh: Ar-Raniry Press, 2007), hal.
8-11.
[5]Nurdinah
Muhammad, dkk, Ilmu Perbandingan
Agama,(Banda Aceh: Ar-Raniry Press, 2004) hal. 146-147.
[6] Zakiah Daradjat, Perbandingan Agama 1,
(Jakarta: BUMI AKSARA, 1996), hal. 3-4.
[7]Nurdinah
Muhammad, Antropologi Agama,…hal. 16-18.
[8]Nurdinah
Muhammad,Antropologi Agama,… hal. 18-16.