I. Pendahuluan
Qira<’at merupakan salah satu cabang ilmu dalam
‘Ulu>m al-Qur’a>n, namun tidak banyak orang yang tertarik kepadanya,
kecuali orang-orang tertentu saja, biasanya kalangan akademik. Banyak faktor
yang menyebabkan hal itu, di antaranya adalah, ilmu ini tidak berhubungan
langsung dengan kehidupan dan muamalah manusia sehari-hari; tidak seperti ilmu
fiqih, hadis, dan tafsir misalnya,yang dapat dikatakan berhubungan langsung
dengan kehidupan manusia. Hal ini dikarenakan ilmu qira<’at tidak
mempelajari masalah-masalah yang berkaitan secara langsung dengan halal-haram
atau hukum-hukum tertentu dalam kehidupan manusia.
Selain itu, ilmu ini juga cukup rumit untuk
dipelajari, banyak hal yang harus diketahui oleh peminat ilmu qira>’at ini,
yang terpenting adalah pengenalan al-Qur’an secara mendalam dalam banyak
seginya, bahkan hafal sebagian besar dari ayat-ayat al-Qur’an merupakan salah
satu kunci memasuki gerbang ilmu ini; pengetahuan bahasa Arab yang mendalam dan
luas dalam berbagai seginya, juga merupakan alat pokok dalam menggeluti ilmu
ini, pengenalan berbagai macam qiraat dan para perawinya adalah hal yang mutlak
bagi pengkaji ilmu ini. Hal-hal inilah – barangkali – yang menjadikan ilmu ini
tidak begitu populer.
Meskipun demikian keadaannya, ilmu ini telah sangat
berjasa dalam menggali, menjaga dan mengajarkan berbagai “cara membaca”
al-Qur’an yang benar sesuai dengan yang telah diajarkan Rasulullah SAW. Para
ahli qiraat telah mencurahkan segala kemampuannya demi mengembangkan ilmu ini.
Ketelitian dan kehati-hatian mereka telah menjadikan al-Qur’an terjaga dari
adanya kemungkinan penyelewengan dan masuknya unsur-unsur asing yang dapat
merusak kemurnian al-Qur’an. Tulisan singkat ini akan memaparkan secara global
tentang ilmu Qira>’at al-Qur’an., dapat dikatakan sebagai pengenalan awal
terhadap Ilmu Qira>’at al-Qur’an.
II. Pengertian Qira>’at dan Perbedaanya dengan Riwayat dan Tariqah
Menurut bahasa, qira>’at (قراءات) adalah bentuk
jamak dari qira>’ah (قراءة) yang merupakan isim masdar dari qaraa (قرأ),
yang artinya : bacaan
Pengertian qira<’at menurut istilah cukup
beragam. Hal ini disebabkan oleh keluasan makna dan sisi pandang yang dipakai
oleh ulama tersebut. Berikut ini akan diberikan dua pengertian qira>’at
menurut istilah.
Qira>’at menurut al-Zarkasyi merupakan perbedaan
lafal-lafal al-Qur'an, baik menyangkut huruf-hurufnya maupun cara pengucapan
huruf-huruf tersebut, sepeti takhfif, tasydid dan lain-lain.
Dari pengertian di atas, tampaknya al-Zarkasyi hanya
terbatas pada lafal-lafal al-Qur'an yang memiliki perbedaan qira>’at saja.
Ia tidak menjelaskan bagaimana perbedaan qira<’at itu dapat terjadi dan
bagaimana pula cara mendapatkan qira>’at itu.
Ada pengertian lain tentang qira>’at yang lebih
luas daripada pengertian dari al-Zarkasyi di atas, yaitu pengertian qira>’at
menurut pendapat al-Zarqani.
Al-Zarqani memberikan pengertian qira>’at sebagai
: “Suatu mazhab yang dianut oleh seorang imam dari para imam qurra’ yang
berbeda dengan yang lainnya dalam pengucapan al-Qur’an al-Karim dengan
kesesuaian riwayat dan thuruq darinya. Baik itu perbedaan dalam pengucapan
huruf-huruf ataupun pengucapan bentuknya.”
Ada beberapa kata kunci dalam membicarakan qiraat
yang harus diketahui. Kata kunci tersebut adalah qira>’at, riwa>yat dan t}ari>qah.
Berikut ini akan dipaparkan pengetian dan perbedaan antara qira>’at dengan
riwa>yat dan t}ari>qah, sebagai berikut :
Qira>’at adalah bacaan yang disandarkan kepada
salah seorang imam dari qurra’ yang tujuh, sepuluh atau empat belas; seperti
qira>’at Nafi’, qira>’at Ibn Kasir, qira>’at Ya’qub dan lain
sebagainya.
Sedangkan Riwa>yat adalah bacaan yang disandarkan
kepada salah seorang perawi dari para qurra’ yang tujuh, sepuluh atau empat
belas. Misalnya, Nafi’ mempunyai dua orang perawi, yaitu Qalun dan Warsy, maka
disebut dengan riwa>yat Qalun ‘anNafi’ atau riwa>yat Warsy ‘an Nafi’.
Adapun yang dimaksud dengan t}ari>qah adalah
bacaan yang disandarkan kepada orang yang mengambil qira>’at dari periwayat
qurra’ yang tujuh, sepuluh atau empat belas. Misalnya, Warsy mempunyai dua
murid yaitu al-Azraq dan al-Asbahani, maka disebut tariq al-Azraq ‘an Warsy,
atau riwayat Warsy min thariq al-Azraq. Bisa juga disebut dengan qira>’at
Nafi’ min riwayati Warsy min tariq al-Azraq.
III. Sejarah Perkembangan Ilmu Qira<’at
Pembahasan tentang sejarah dan perkembangan ilmu
qira>’at ini dimulai dengan adanya perbedaan pendapat tentang waktu mulai
diturunkannya qira>’at. Ada dua pendapat tentang hal ini; Pertama,
qira>’at mulai diturunkan di Makkah bersamaan dengan turunnya al-Qur’an.
Alasannya adalah bahwa sebagian besar surat-surat al-Qur’an adalah Makkiyah di
mana terdapat juga di dalamnya qira>’at sebagaimana yang terdapat pada
surat-surat Madaniyah. Hal ini menunjukkan bahwa qira>’at itu sudah mulai
diturunkan sejak di Makkah.
Kedua, qira>’at mulai diturunkan di Madinah
sesudah peristiwa Hijrah, dimana orang-orang yang masuk Islam sudah banyak dan
saling berbeda ungkapan bahasa Arab dan dialeknya. Pendapat ini dikuatkan oleh
hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahihnya, demikian juga
Ibn Jarir al-Tabari dalam kitab tafsirnya. Hadis yang panjang tersebut
menunjukkan tentang waktu dibolehkannya membaca al-Qur’an dengan tujuh huruf
adalah sesudah Hijrah, sebab sumber air Bani Gaffar – yang disebutkan dalam
hadis tersebut--terletak di dekat kota Madinah.
Kuatnya pendapat yang kedua ini tidak berarti
menolak membaca surat-surat yang diturunkan di Makkah dalam tujuh huruf, karena
ada hadis yang menceritakan tentang adanya perselisihan dalam bacaan surat al-Furqan
yang termasuk dalam surat Makkiyah, jadi jelas bahwa dalam surat-surat Makkiyah
juga dalam tujuh huruf.
Ketika mushaf disalin pada masa Usman bin Affan,
tulisannya sengaja tidak diberi titik dan harakat, sehingga kalimat-kalimatnya
dapat menampung lebih dari satu qira>’at yang berbeda. Jika tidak bisa
dicakup oleh satu kalimat, maka ditulis pada mushaf yang lain. Demikian
seterusnya, sehingga mushaf Usmani mencakup ahruf sab’ah dan berbagai
qira>’at yang ada.
Periwayatan dan Talaqqi (si guru membaca dan murid
mengikuti bacaan tersebut) dari orang-orang yang tsiqoh dan dipercaya merupakan
kunci utama pengambilan qira>’at al-Qur’an secara benar dan tepat
sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW kepada para sahabatnya. Para sahabat
berbeda-beda ketika menerima qira>’at dari Rasulullah. Ketika Usman
mengirimkan mushaf-mushaf ke berbagai kota Islam, beliau menyertakan orang yang
sesuai qiraatnya dengan mushaf tersebut. Qira>’at orang-orang ini
berbeda-beda satu sama lain, sebagaimana mereka mengambil qira>’at dari
sahabat yang berbeda pula, sedangkan sahabat juga berbeda-beda dalam mengambil
qira>’at dari Rasulullah SAW.
Dapat disebutkan di sini para Sahabat ahli
qira>’at, antara lain adalah : Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin
Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Ibn Mas’ud, Abu al-Darda’, dan Abu Musa al-‘Asy’ari.
Para sahabat kemudian menyebar ke seluruh pelosok
negeri Islam dengan membawa qira>’at masing-masing. Hal ini menyebabkan
berbeda-beda juga ketika Tabi’in mengambil qira>’at dari para Sahabat. Demikian
halnya dengan Tabiut-tabi’in yang berbeda-beda dalam mengambil qira>’at dari
para Tabi’in.
Ahli-ahli qira>’at di kalangan Tabi’in juga telah
menyebar di berbagai kota. Para Tabi’in ahli qira>’at yang tinggal di
Madinah antara lain : Ibn al-Musayyab, ‘Urwah, Salim, Umar bin Abdul Aziz,
Sulaiman dan’Ata’ (keduanya putra Yasar), Muadz bin Harits yang terkenal dengan
Mu’ad al-Qari’, Abdurrahman bin Hurmuz al-A’raj, Ibn Syihab al-Zuhri, Muslim
bin Jundab dan Zaid bin Aslam.
Yang tinggal di Makkah, yaitu: ‘Ubaid bin’Umair,
‘Ata’ bin Abu Rabah, Tawus, Mujahid, ‘Ikrimah dan Ibn Abu Malikah.
Tabi’in yang tinggal di Kufah, ialah : ‘Alqamah,
al-Aswad, Maruq, ‘Ubaidah, ‘Amr bin Surahbil, al-Haris bin Qais,’Amr bin
Maimun, Abu Abdurrahman al-Sulami, Said bin Jabir, al-Nakha’i dan al-Sya'bi.
Sementara Tabi’in yang tinggal di Basrah , adalah
Abu ‘Aliyah, Abu Raja’, Nasr bin ‘Asim, Yahya bin Ya’mar, al-Hasan, Ibn Sirin
dan Qatadah.
Sedangkan Tabi’in yang tinggal di Syam adalah :
al-Mugirah bin Abu Syihab al-Makhzumi dan Khalid bin Sa’d.
Keadaan ini terus berlangsung sehingga muncul para
imam qiraat yang termasyhur, yang mengkhususkan diri dalam qira>’at –
qira>’at tertentu dan mengajarkan qira>’at mereka masing-masing.
Perkembangan selanjutnya ditandai dengan munculnya
masa pembukuan qira>’at. Para ahli sejarah menyebutkan bahwa orang yang
pertama kali menuliskan ilmu qira>’at adalah Imam Abu Ubaid al-Qasim bin
Salam yang wafat pada tahun 224 H. Ia menulis kitab yang diberi nama
al-Qira>’at yang menghimpun qiraat dari 25 orang perawi. Pendapat lain
menyatakan bahwa orang yang pertama kali menuliskan ilmu qiraat adalah Husain
bin Usman bin Tsabit al-Baghdadi al-Dharir yang wafat pada tahun 378 H. Dengan
demikian mulai saat itu qira>’at menjadi ilmu tersendiri dalam ‘Ulu>m al-Qur’a>n.
Menurut Sya’ban Muhammad Ismail, kedua pendapat itu
dapat dikompromikan. Orang yang pertama kali menulis masalah qiraat dalam
bentuk prosa adalah al-Qasim bin Salam, dan orang yang pertama kali menullis
tentang qira>’at sab’ah dalam bentuk puisi adalah Husain bin Usman
al-Baghdadi.
Pada penghujung Abad ke III Hijriyah, Ibn Mujahid
menyusun qira>’at Sab’ah dalam kitabnya Kitab al-Sab’ah. Dia hanya
memasukkan para imam qiraat yang terkenal siqat dan amanah serta panjang
pengabdiannya dalam mengajarkan al-Qur’an, yang berjumlah tujuh orang. Tentunya
masih banyak imam qira>’at yanng lain yang dapat dimasukkan dalam kitabnya.
Ibn Mujahid menamakan kitabnya dengan Kitab
al-Sab’ah hanyalah secara kebetulan, tanpa ada maksud tertentu. Setelah
munculnya kitab ini, orang-orang awam menyangka bahwa yang dimaksud dengan
ahruf sab’ah adalah qira>’at sab’ah oleh Ibn Mujahid ini. Padahal masih
banyak lagi imam qira>’at lain yang kadar kemampuannya setara dengan tujuh
imam qira>’at dalam kitab Ibn Mujahid
Abu al-Abbas bin Ammar mengecam Ibn Mujahid karena
telah mengumpulkan qira>’at sab’ah. Menurutnya Ibn Mujahid telah melakukan
hal yang tidak selayaknya dilakukan, yang mengaburkan pengertian orang awam
bahwa Qiraat Sab’ah itu adalah ahruf sab’ah seperti dalam hadis Nabi itu. Dia
juga menyatakan, tentunya akan lebih baik jika Ibn Mujahid mau mengurangi atau
menambah jumlahnya dari tujuh, agar tidak terjadi syubhat.
Banyak sekali kitab-kitab qiraat yang ditulis para
ulama setelah Kitab Sab’ah ini. Yang paling terkenal diantaranya adalah :
al-Taysir fi> al-Qira>’at al-Sab’i yang diisusun oleh Abu Amr al-Dani,
Matan al-Syatibiyah fi> Qira>’at al-Sab’i karya Imam al-Syatibi, al-Nasyr
fi> Qira>’at al-‘Asyr karya Ibn al-Jazari dan Itaf Fudala’ al-Basyar fi>
al-Qira>’at al-Arba’ah ‘Asyara karya Imam al-Dimyati al-Banna. Masih banyak
lagi kitab-kitab lain tentang qira>’at yang membahas qiraat dari berbagai
segi secara luas, hingga saat ini.
IV. Tokoh-Tokoh dan Karya Ilmiahnya
Perkembangan ilmu qiraat demikian pesatnya, sehingga
memunculkan banyak tokoh-tokoh ahli qira>’at yang mengabadikan ilmunya dalam
bentuk karya tulis. Berikut ini dipaparkan beberapa tokoh ahli qira>’at
dengan karya-karyanya, sebagai berikut :
1. Makki bin Abu Thalib al-Qaisi, wafat pada tahun
437 H
Beliau menyusun kitab : al-Ibanah ‘an Ma’ani
al-Qiraat dan al-Kasyfu ‘an Wujuuhi al-Qiraati al-Sab’i wa ‘Ilaaliha
2. Abdurrahman bin Ismail, yang lebih dikenal dengan
nama Abu Syaamah, wafat pada tahun 665 H. Beliau mengarang kitab :Ibraazu
Ma’ani min Harzi al-Amani dan Syarah Kitab al-Syatibiyah
3. Ahmad bin Muhammad al-Dimyati. Wafat pada tahun
117 H. Beliau menyusun kitab : Itafu Fudalai al-Basyari fi al- qira>’at
al-Arba’i ‘Asyar
4. Imam Muhammad al-Jazari, wafat pada tahun 832 H.
Beliau menyusun kitab :Tahbir al-Taisir fi al-Qiraat
al-‘Asyar min T}ariiqi al-Syatibiyah wa al-Durrah
5. Imam Ibn al-Jazari yang menyusun kitab : Taqrib
al-Nasyar fi al-Qira>’at al-‘Asyar dan Al-Nasyar fi al-Qira>’at al-‘Asyar
6. Husain bin Ahmad bin Khalawaih, wafat pada tahun
370 H.
Beliau menyusun kitab : al-Hujjatufi> Qira>’at
al-Sab’i dan Mukhtashar Syawaadzi al-Qur’an
7. Imam Ahmad bin Musa bin Mujahid, wafat pada tahun
324 H.
Beliau menyusun kitab : Kitab al-Sab’ah
8. Imam Syatibi, wafat pada tahhun 548 H. Beliau
menyusun kitab : Harzu al-Amani wa Wajhu al-Nahani –Nazam fi> Qira>’at
al-Sab’i
9. Syaikh Ali al-Nawawi al-Shafaqisi yang menyusun
kitab : Ghaitsu al-Nafi’ fi al-Qira>’atial-Sab’i
10. Imam Abu Amr al-Dani, wafat pada tahun 444 H.
Beliau menyusun kitab : al-Taysir fi> al-Qira>’at
al-Sab’i.
V. Pembagian Qira>’at dan Macam-macamnya
Ibn al-Jazari, sebagaimana dinukil oleh al-Suyuti,
menyatakan bahwa qira>’at dari segi sanad dapat dibagi menjadi 6 (enam)
macam, yaitu :
1. Qira>’at Mutawa>tir
Qira>’at Mutawa>tir adalah qira>’at yang
diriwayatkan oleh orang banyak dari banyak orang yang tidak mungkin terjadi
kesepakatan diantara mereka untuk berbuat kebohongan.
Contoh untuk qira>’at mutawa>tir ini ialah
qira>’at yang telah disepakati jalan perawiannya dari imam Qiraat Sab’ah
2. Q ira>’at Masyhu>r
Qqira>’at Masyhu>r adalah qira>’at yang
sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah SAW. diriwayatkan oleh beberapa
orang yang adil dan kuat hafalannya, serta qira>’at -nya sesuai dengan salah
satu rasam Usmani; baik qira>’at itu dari para imam qira>’at sab’ah, atau
imam Qiraat’asyarah ataupun imam-imam lain yang dapat diterima qira>’at -nya
dan dikenal di kalangan ahli qira>’at bahwa qira>’at itu tidak salah dan
tidak syadz, hanya saja derajatnya tidak sampai kepada derajat Mutawa>tir
Misalnya ialah qira>’at yang diperselisihkan
perawiannya dari imam qira>’at Sab’ah, dimana sebagian ulama mengatakan
bahwa qira>’at itu dirawikan dari salah satu imam qira>’at Sab’ah dan
sebagian lagi mengatakan bukan dari mereka.
Dua macam qira>’at di atas, qira>’at Mutawatir
dan qira>’at Masyhur, dipakai untuk membaca al-Qur’an, baik dalam shalat
maupun diluar shalat, dan wajib meyakini ke-Qur’an-annya serta tidak boleh
mengingkarinya sedikitpun.
3. Q ira>’at Ahad
Qira>’at Ahad adalah qiraat yang sanadnya bersih
dari cacat tetapi menyalahi rasam Utsamani dan tidak sesuai dengan kaidah
bahasa Arab. Juga tidak terkenal di kalangan imam qiraat.
Qira>’at Ahad ini tidak boleh dipakai untuk
membaca al-Qur’an dan tidak wajib meyakininya sebagai al-Qur’an.
4. Q ira>’at Syazah
Qira>’at Syazah adalah qira>’at yang cacat
sanadnya dan tidak bersambung sampai kepada Rasulullah SAW.
Hukum Qiraat Syazah ini tidak boleh dibaca di dalam
maupun di luar sholat.
qira>’at Sya>zah dibagi lagi dalam 5 (lima)
macam, sebagai berikut :
One. Ah}a>d, yaitu qira>’at yang sanadnya
sahih tetapi tidak sampai mutawatir dan menyalahi rasam Usmani atau kaidah
bahasa Arab.
Two. Syaz, yaitu qira>’at yang tidak mempunyai
salah satu dari rukun yang tiga.
Three. Mudraj, yaitu qira>’at yang ditambah
dengan kalimat lain yang merupakan tafsirnya.
Four. Maudu>’, yaitu qira>’at yang dinisbahkan
kepada orang yang mengatakannya (mengajarkannya) tanpa mempunyai asal usul
riwayat qiraat sama sekali.
Five. Masyhur, yaitu qira>’at yang sanadnya
shahih tetapi tidak mencapai derajat mutawatir serta sesuai dengan kaeidah tata
bahasa Arab dan Rasam Usmani.
5. Qira>’at Maudu>’
Qira>’at Maudu>’ adalah qira>’at yang
dibuat-buat dan disandarkan kepada seseorang tanpa mempunyai dasar periwayatan
sama sekali.
6. Qira>’at Syabih bil Mudraj
Qiraat Sabih bil Mudraj adalah qira>’at yang
menyerupai kelompok Mudraj dalam hadis, yakni qira>’at yang telah memperoleh
sisipan atau tambahan kalimat yang merupakan tafsir dari ayat tersebut.
Berikut ini adalah pembagian tingkatan qiraat para imam qiraat berdasarkan
kemutawatiran qiraat tersebut, para ulama telah membaginya ke dalam 3 (tiga)
kategori, yaitu :
1. qira>’at yanng telah disepakati
kemutawatirannya tanpa ada perbedaan pendapat di antara para ahli qira>’at,
yaitu para imam qira>’at yang tujuh orang (qira>’at Sab’ah)
2. qira>’at yang diperselisihkan oleh para ahli
qira>’at tentang kemutawatirannya, namun menurut pendapat yang shahih dan
masyhur qiraat tersebut mutawatir, yaitu qira>’at para imam qira>’at yang
tiga; imam Abu Ja’far, Imam Ya’kub dan Imam Khalaf.
3. qira>’at yang disepakati ketidakmutawatirannya
(qira>’at syaz) yaitu qira>’at selain dari qira>’at para imam yang
sepuluh (qira>’at ‘Asyarah).
Dari segi jumlah, macam-macam qira>’at dapat
dibagi menjadi 3 (tiga) macam qiraat yang terkenal, yaitu :
1. Qira>’at Sab’ah, adalah qira>’at yang
dinisbahkan kepada para imam Qurra’ yang tujuh yang termasyhur. Mereka adalah
Nafi’, Ibn KAsir, Abu Amru, Ibn Amir, Ashim, Hamzah dan Kisa’i.
2. Qira>’at ‘Asyarah, adalah qira>’at Sab’ah
di atas ditambah dengan tiga qiraat lagi, yang disandarkan kepada Abu Ja’far,
Ya’kub dan Khalaf al-‘Asyir.
3. Qira>’at Arba’ ‘Asyarah, adalah qira>’at
‘Asyarah lalu ditambah dengan empat qiraat lagi yang disandarkan kepada Ibn
Muhaisin, Al-Yazidi, Hasan al-Bashri dam al-A’masy.
Dari ketiga macam qira>’at di atas, yang paling
terkenal adalah Qiraat Sab’ah kemudian disusul oleh qira>’at ‘Asyarah.
VI. Mengenal Imam-Imam Qira>’at
Berikut ini adalah para imam qira>’at yang
terkenal dalam sebutan qira>’at Sab’ah dan Qiraat ‘Asyarah , serta
qira>’at Arba’ ‘Asyara :
1. Nafi’al-Madani
Nama lengkapnya adalah Abu Ruwaim Nafi’ bin
Abdurrahman bin Abu Nu’aim al-Laitsi, maula Ja’unah bin Syu’ub al-Laitsi.
Berasal dari Isfahan. Wafat di Madinah pada tahun 177 H.
Ia mempelajari qira>’at dari Abu Ja’far Yazid bin
Qa’qa’, Abdurrahman bin Hurmuz, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin ‘Iyasy bin Abi
Rabi’ah al-Makhzumi; mereka semua menerima qiraat yang mereka ajarkan dari Ubay
bin Ka’ab dari Rasulullah.
Murid-murid Imam Nafi’ banyak sekali, antara lain :
Imam Malik bin Anas, al-Lais bin Sa’ad, Abu ‘Amar ibn al-‘Alla’, ‘Isa bin
Wardan dan Sulaiman bin Jamaz.
Perawi qira>’at Imam Nafi’ yang terkenal ada dua
orang, yaitu Qaaluun (w. 220 H) dan Warasy (w.197 H).
2. Ibn Kasir al-Makki
Nama lengkapnya adalah Abdullah ibn Kasir bin Umar
bin Abdullah bin Zada bin Fairuz bin Hurmuz al-Makki. Lahir di Makkah tahun 45
H. dan wafat juga di Makkah tahun 120 H.
Beliau mempelajari qira>’at dari Abu as-Sa’ib,
Abdullah bin Sa’ib al-Makhzumi, Mujahid bin Jabr al-Makki dan Diryas (maula Ibn
‘Abbas). Mereka semua masing-masing menerima dari Ubay bin Ka’ab, Zaid bin
Sabit dan Umar bin Khattab; ketiga Sahabat ini menerimanya langsung dari
Rasulullah SAW.
Murid-murid Imam Ibn KAsir banyak sekali, namun
perawi qiraatnya yang terkenal ada dua orang, yaitu Bazzi (w. 250 H) dan Qunbul
(w. 251 H).
3. Abu’Amr al-Basri
Nama lengkapnya Zabban bin ‘Alla’ bin ‘Ammar bin
‘Aryan al-Mazani at-Tamimi al-Bashr. Ada yang mengatakan bahwa namanya adalah
Yahya. Beliau adalah imam Bashrah sekaligus ahli qiraat Bashrah. Beliau lahir
di Mekkah tahun 70 H, besar di Bashrah, kemudian bersama ayahnya berangkat ke
Makkah dan Madinah. Wafat di Kufah pada tahun 154 H.
Beliau belajar qira>’at dari Abu Ja’far, Syaibah
bin Nasah, Nafi’ bin Abu Nu’aim, Abdullah ibn Kasir, ‘Ashim bin Abu al-Nujud
dan Abu al-‘aliyah. Abu al-‘Aliyah menerimanya dari Umar bin Khattab, Ubay bin
Ka’ab, Zaid bin Sabit dan Abdullah bin Abbas. Keempat Sahabat ini menerima
qira>’at langsung dari Rasulullah SAW.
Murid beliau banyak sekali, yang terkenal adalah
Yahya bin Mubarak bin Mughirah al-Yazidi (w. 202 H.) Dari Yahya inilah kedua
perawi qiraat Abu ‘Amr menerima qiraatnya, yaitu al-Duuri (w. 246 H) dan
al-Suusii (w. 261 H).
4. Abdullah bin ‘Amir al-Sya>mi
Nama lengkapnya adalah Abdullah bin ‘Amir bin Yazid
bin Tamim bin Rabi’ah al-Yahshabi. Nama panggilannya adalah Abu ‘Amr, ia
termasuk golongan Tabi’in. Beliau adalah imam qiraat negeri Syam, lahir pada
tahun 8 H, wafat pada tahun 118 H di Damsyik.
Ibn ‘Amir menerima qira>’at dari Mugirah bin Abu
Syihab, Abdullah bin Umar bin Mugirah al-Makhzumi dan Abu Darda’ dari Utsaman
bin Affan dari Rasulullah SAW.
Di antara para muridnya yang menjadi perawi
qiraatnya yang terkenal adalah Hisyam (w. 145 H) dan Ibn Zakwaan (w. 242 H).
5. ‘Ashim al-Kufi
Nama lengkapnya adalah ‘Ashim bin Abu al-Nujud. Ada
yang mengatakan bahwa nama ayahnya adalah Abdullah, sedang Abu al-Nujud adalah
nama panggilannya. Nama panggilan ‘Ashim sendiri adalah Abu Bakar, ia masih
tergolong Tabi’in. Beliau wafat pada tahun 127 H.
Beliau menerima qira>’at dari Abu Abdurrahman bin
Abdullah al-Salami, Wazar bin Hubaisy al-Asadi dan Abu Umar Saad bin Ilyas
al-Syaibani. Mereka bertiga menerimanya dari Abdullah bin Mas’ud. Abdullah bin
Mas’ud menerimanya dari Rasulullah SAW.
Di antara para muridnya yang menjadi perawi
qiraatnya yang terkenal adalah Syu’bah (w.193 H) dan Hafs (w. 180H).
6. Hamzah al-Kufi
Nama lengkapnya adalah Hamzah bin Habib bin ‘Ammarah
bin Ismail al-Kufi. Beliau adalah imam qiraat di Kufah setelah Imam ‘Ashim.
Lahir pada tahun 80 H., wafat pada tahun 156 H di Halwan, suatu kota di Iraq.
Beliau belajar dan mengambil qiraat dari Abu Hamzah
Hamran bin A’yun, Abu Ishaq ‘Amr bin Abdullah al-Sabi’I, Muhammad bin
Abdurrahman bin Abu Ya’la, Abu Muhammad Talhah bin Mashraf al-Yamani dan Abu
Abdullah Ja’far al-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Zainul ‘Abidin bin Husein
bin Ali bin Abi Thalib serta Abdullah bin Mas’ud dari Rasulullah SAW.
Di antara para muridnya yang menjadi perawi
qira>’at -nya yang terkenal adalah Khalaf (w. 150 H) dan Khallad (w. 229 H).
7. Al-Kisa’i al-Kufi
Nama lengkapnya adalah Ali bin Hamzah bin Abdullah
bin Usman al-Nahwi. Nama panggilannya Abul Hasan dan ia bergelar Kisa’i karena
ia mulai melakukan ihram di Kisaa’i. Beliau wafat pada tahun 189 H.
Beliau mengambil qira>’at dari banyak ulama.
Diantaranya adalah Hamzah bin Habib al-Zayyat, Muhammad bin Abdurrahman bin Abu
Laia, ‘Ashim bin Abun Nujud, Abu Bakar bin’Ilyasy dan Ismail bin Ja’far yang
menerimanya dari Syaibah bin Nashah (guru Imam Nafi’ al-Madani), mereka semua
mempunyai sanad yang bersambung kepada Rasulullah SAW.
Murid-murid Imam Kisaa’i yang dikenal sebagai perawi
yang dikenal sebagai perawi qira>’at-nya adalah al-Lais (w. 240 H) dan Hafsh
al-Duuri (w. 246 H).
Untuk melengkapi jumlah qira>’at menjadi
qira>’at ‘Asyarah, maka ditambahkan imam-imam qira>’at berikut ini :
8. Abu Ja’far al-Madani
Nama lengkapnya adalah Yazid bin Qa’qa’ al-Makhzumi
al-Madani. Nama panggilannya Abu Ja’far. Beliau salah seorang Imam Qiraat
‘Asyarah dan termasuk golongan Tabi’in. Beliau wafat pada tahun 130 H.
Beliau mengambil qiraat dari maulanya, Abdullah bin
‘Iyasy bin Abi Rabi’ah, Abdullah bin Abbas dan Abu Hurairah, mereka bertiga
menerimanya dari Ubay bin Ka’ab. Abu Hurairah dan Ibn Mas’ud mengambil qiraat
dari Zaid bin Tsabit, dan mereka semua menerimanya dari Rasulullah SAW.
Murid Imam Abu Ja’far yang terkenal menjadi perawi
qiraatnya adalah Isa bin Wardaan (w. 160 H) dan Ibn Jammaz (w. 170 H).
9. Ya’qub al-Bashri
Nama lengkapnya adalah Ya’qub bin Ishaq bin Zaid bin
Abdullah bin Abu Ishaq al-Hadrami al-Mishri. Nama panggilannya Muhammad. Beliau
seorang imam qiraat yang besar, banyak ilmu,shalih dan terpercaya. Beliau
merupakan sesepuh utama para ahli qiraat sesudah Abu ‘Amr bin al-‘Alla’. Beliau
wafat pada bulan Zul Hijjah tahun 205 H.
Beliau mengambil qiraat dari Abdul Mundir Salam bin
Sulaiman al-Muzanni, Syihab bin Syarnafah, Abu Yahya Mahd bin Maimun dan Abul
Asyhab Ja’far bin Hibban al-‘Autar. Semua gurunya ini mempunyai sanad yang
bersambung kepada Abu Musa al-Asy’ari dari Rasulullah SAW.
Murid sekaligus perawi dari qiraat Imam Ya’qub yang
terkenal adalah Ruwas (w. 238 H) dan Ruh (w. 235 H).
10. Khalaf al-‘Asyir
Nama lengkapnya adalah Khalaf bin Hisyam bin Tsa’lab
al-Asdi al-Baghdadi. Nama panggilannya Abu Muhammad. Beliau lahir tahun 150 H.
dan wafat pada bulan Jumadil akhir tahun 229 H. di Bagdad.
Beliau tampil dengan qiraat tersendiri yang berbeda
dengan qiraat dari gurunya Imam Hamzah, oleh karena itu ia terhitung masuk ke
dalam kelompok Imam Qiraat ‘Asyarah
Murid-murid yang merawikan qiraat Imam Khalaf ini
yang terkenal adalah Ishaq (w. 286 H) dan Idris (w. 292).
Untuk melengkapi jumlah qiraat menjadi Qiraat Arba’
‘Asyarah, maka ditambahkan imam-imam qiraat berikut ini :
11. Hasan al-Basri
Nama lengkapnya adalah Hasan bin Abu al-Hasan Yasar
Abu Said al-Bashri. Seorang pembesar Tabi’in yang terkenal zuhud, wafat pada
tahun 110 H. Dua perawinya adalah Syuja’ bin Abu al-Nashr al-Balkhi dan
al-Duri.
12. Ibn Muhaisin
Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Abdurrahman
al-Makki. Beliau adalah guru dari Abu ‘Amr al-Dani, wafat pada tahun 123 H. Dua
perawinya adalah al-Bazzi dan Abu al-Hasan bin Syambudz
13. al-Yazidi
Nama lengkapnya adalah Yahya bin Mubarak al-Yazidi
al-Nahwi. Beliau adalah guru dari al-Duri dan Al-Susi, wafat pada tahun 202 H.
Dua perawinya adalah Sulaiman bin al-Hakam dan Ahmad bin Farh.
14. al-A’masy
Nama lengkapnya adalah Sulaiman bin Mahram
al-A’masy. Beliau termasuk golongan Tabii., wafat pada tahun 148 H. Dua
perawinya adalah al-Hasan bin Said al-Mathu’I dan Abu al-Farj al- Syambudzi
al-Syatwi.
G. Syarat-Syarat Sahnya Qiraat
Para ulama menetapkan tiga syarat sah dan
diterimanya qiraat. yaitu :
1. Sesuai dengan salah satu kaidah bahasa Arab.
2. Sesuai dengan tulisan pada salah satu mushaf
Usmani, walaupun hanya tersirat.
3. Shahih sanadnya.
Yang dimaksud dengan “sesuai dengan salah satu
kaidah bahasa Arab“ ialah: tidak menyalahi salah satu segi dari segi-segi
qawa’id bahasa Arab, baik bahasa Arab yang paling fasih ataupun sekedar fasih,
atau berbeda sedikit tetapi tidak mempengaruhi maknanya. Yang lebih dijadikan
pegangan adalah qiraat yang telah tersebar secara luas dan diterima para imam
dengan sanad yang shahih.
Sementara yang dimaksud dengan “sesuai dengan salah
satu tulisan pada mushaf Usmani” adalah sesuainya qiraat itu dengan tulisan
pada salah satu mushaf yang ditulis oleh panitia yang dibentuk oleh Usman bin
‘Affan dan dikirimkannya ke kota-kota besar Islam pada masa itu.
Mengenai maksud dari “shahih sanadnya” ini ulama
berbeda pendapat. Sebagian menganggap cukup dengan shahih saja, sebagian yang
lain mensyaratkan harus mutawatir.
Syaikh Makki bin Abu Talib al-Qaisi menyatakan :
“Qiraat shahih adalah qiraat yang shahih sanadnya sampai kepada Nabi Muhammad
SAW, ungkapan kalimatnya sempurna menurut kaedah tata bahasa Arab dan sesuai
dengan tulisan pada salah satu mushaf Usmani.” Pendapat ini diikuti oleh Ibnl
Jazari, sebagaimana disebutkan dalam kitabnya Tayyibatun Nasyar fi
al-Qira>’at al-‘Asyar..
Menurut Sya’ban Muhammad Ismail, mengutip pendapat
al-Shafaaqasi, pendapat ini lemah karena membawa akibat tidak adanya perbedaan
antara al-Qur’an dengan yang bukan al-Qur’an.
Akan tetapi pada kesempatan lain, Ibnl Jazari
mensyaratkan mutawatir untuk diterimanya qiraat yang shahih, seperti disebutkan
pada kitabnya Munjid al-Muqriin wa Mursyid al-Talibin. Jadi, mungkin yang
dimaksud dengan “shahih sanadnya” oleh Ibnl Jazari di sini adalah Mutawatir.
Menurut Imam al-Nuwairi : “ Meniadakan syarat
mutawatir adalah pendapat yang baru, bertentangan dengan ijma’ para ahli fiqih,
ahli hadis dan yang lain-lain. Sebab al-Qur’an – menurut jumhur ulama empat
mazhab yang terkemuka – adalah kalamullah yang diriwayatkan secara mutawatir
dan dituliskan pada mushaf. Semua orang yang memegang definisi ini pasti
mensyaratkan mutawatir, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibn Hajib. Dengan
demikian, menurut para imam dan pemuka mazhab yang empat, syarat mutawatir itu
merupakan keharusan. Banyak orang yang secara jelas menerangkan pendapat ini
seperti Abu Abdul Barr, al-Azra’i, Ibn ‘Athiyah, al-Zarkasyi dan al-Asnawi.
Pendapat yang mensyaratkan mutawatir inipun telah menjadi ijma’ para ahli
qiraat. Tidak ada ulama mutaakhirin yang tidak sependapat kecuali al-Makki dan
beberapa orang lainnya.”
VIII. Pengaruh Qira>’at Terhadap Istimbat Hukum
Dalam hal istimbat hukum, qiraat dapat membantu
menetapkan hukum secara lebih jeli dan cermat. Perbedaan qiraat al-Qur'an yang
berkaitan dengan substansi lafaz atau kalimat, adakalanya mempengaruhi makna
dari lafaz tersebut adakalanya tidak. Dengan demikian, maka perbedaan qiraat
al-Qur'an adakalanya berpengaruh terhadap istimbat hukum, dan adakalanya tidak
1. Perbedaan qira>’at yang berpengaruh terhadap
istinbat Hukum
Qira>’at shahihah (Mutawatir dan Masyhur) bisa dijadikan
sebagai tafsir dan penjelas serta dasar penetapan hukum, misalnya qira>’at
() membantu penafsiran qira>’at (لَامَسْتُمْ) dalam menetapkan hal-hal yang
membatalkan wudu seperti dalam Q.S> Al-Nisa’ (4): 43 :
…. وَإِنْ كُنتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ
أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنْ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمْ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً
فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ إِنَّ اللَّهَ
كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا
Terjemahnya:
"….. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam
musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan,
kemudian kamu tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang
baik (suci): sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi
Maha Pengampun".
Ada perbedaan cara membaca pada lafaz (لَامَسْتُمْ النِّسَاءَ).
Ibn KAsir, Nafi', 'Ashim, Abu 'Amer dan Ibn 'Amir, membaca (لَامَسْتُمْ النِّسَاءَ),
sedangkan Ham-zah dan al-Kisa'i, membaca (لَامَسْتُمْ النِّسَاءَ).
Para ulama berbeda pendapat tentang makna dari
qira>’at (لَامَسْتُمْ), ada tiga versi pendapat ulama mengenai makna (َامَسْتُمْ),
yaitu: bersetubuh, bersentuh, dan bersentuh serta bersetubuh.
Para ulama juga berbeda pendapat tentang maksud dari
(َامَسْتُمْ). Ibn Abbas, al-Hasan, Mujahid, Qatadah dan Abu Hanifah berpendapat
bahwa maksudya adalah: bersetubuh. Sementara itu, Ibn Mas'ud, Ibn Abbas
al-Nakha'i dan Imam Syafi'i berpendapat, bahwa yang dimaksud adalah: bersentuh
kulit baik dalam bentuk persetubuhan atau dalam bentuk lainnya.
Ada sebuah pendapat yang menyatakan, bahwa yang
dimaksud dengan (لَامَسْتُمْ النِّسَاءَ) adalah sekedar menyentuh perempuan.
Sedangkan maksud dari (َامَسْتُمْ) adalah berjima’ dengan perempuan. Sementara
ada hadis shahih yang menceritakan bahwa Nabi SAW pernah mencium istrinya
sebelum berangkat sholat tanpa berwudhu lagi. Jadi yang dimaksud dengan kata (لَامَسْتُمْ
النِّسَاءَ) di sini adalah berjima’, bukan sekedar menyentuh perempuan. Dari
contoh di atas dapat diambil kesimpulan, bahwa yang membatalkan wudhu adalah
berjima’, bukan sekedar bersentuhan dengan perempuan.
Pendapat lain menyatakan bahwa pendapat yang kuat
adalah yang berarti bersentuhan kulit. Pendapat ini dikuatkan oleh al-Razi yang
menyatakan bahwa kata al-lums (اللمس) dalam qira>’at (لمستم), makna hakikinya
adalah menyentuh dengan tangan. Ia menegaskan bahwa bahwa pada dasarnya suatu
lafaz harus diartikan dengan pengertian hakikinya. Sementara itu, kata
al-mulamasat (الملامسات) dalam qira>’at (َامَسْتُمْ), makna hakikinya adalah
saling menyentuh, dan bukan berarti bersetubuh.
2. Perbedaan Qiraat yang Tidak Berpengaruh terhadap
Istinbat Hukum
Berikut ini adalah contoh dari adanya perbedaan
qira>’at tetapi tidak berpengaruh terhadap istimbath hukum, yaitu pada Q.S.
al-Ahzab (33): 49.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نَكَحْتُمْ الْمُؤْمِنَاتِ
ثُمَّ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ فَمَا لَكُمْ عَلَيْهِنَّ
مِنْ عِدَّةٍ تَعْتَدُّونَهَا فَمَتِّعُوهُنَّ وَسَرِّحُوهُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا
Terjemahnya:
"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu
menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka
sebelum kamu mencampurinya, maka sekali-kali tidak wajib atas mereka iddah
bagimu yang kamu minta menyempurnakannya. Maka berilah mereka mut'ah, dan
lepaskanlah mereka itu dengan cara sebaik-baiknya."
Ayat di atas menjelaskan, bahwa seorang istri yanng
diceraiakn oleh suaminya dalam keadaan belum disetubuhi, maka tidak ada masa
iddah baginya. Masa iddah adalah masa menunggu bagi seorang wanita yang
diceraikan suaminya, sebelum wanita tersebut dibolehkan kawin lagi dengan
laki-laki lain.
Berkenaan dengan ayat di atas, Hamzah dan al-Kisa'I,
membacanya dengan (مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمآسُّوهُنَّ), sementara Ibn Kasir, Abu
'Amer, Ibn 'Ashim, dan Nafi' membaca: (مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ). Perbedaan
bacaan tersebut tidak menimbulkan perbedaan maksud atau ketentuan hukum yang
terkandung di dalamnya.
3. Pemakaian Qira>’at Syaz dalam Istinbat Hukum
Tidak hanya qira>’at mutawa>tir dan masyhur
yang dapat dipergunakan untuk menggali hukum-hukum syar’iyah, bahkan
qira>’at Syaz juga boleh dipakai untuk membantu menetapkan hukum syar’iyah.
Hal itu dengan pertimbangan bahwa qira>’at Syaz itu sama kedudukannya dengan
hadis Ahad (setingkat di bawah Mutawatir), dan mengamalkan hadis Ahad adalah boleh.
Ini merupakan pendapat Jumhur ulama.
Ulama mazhab Syafi’i tidak menerima dan tidak
menjadikan Qiraat Syaz sebagai dasar penetapan hukum dengan alasan bahwa Qiraat
Syaz tidak termasuk al-Qur’an. Pendapat ini dibantah oleh Jumhur Ulama yang
mengatakan bahwa dengan menolak Qira>’at Syaz sebagai al-Qur’an tidak
berarti sekaligus menolak Qiraat Syaz sebagai Khabar (Hadis). Jadi, paling
tidak Qiraat Syaz tersebut merupakan Hadis Ahad.
Contoh penggunaan Qira>’at Syaz sebagai dasar
hukum adalah sebagai berikut :
1. Memotong tangan kanan pencuri, berdasarkan kepada
qiraat Ibn Mas’ud dalam surat al-Maidah ayat 38, yang berbunyi :
وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْمانيَهُمَا
Artinya:
Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri,
potonglah tangan kanan keduanya…..
Dalam Qiraat yang shahihah ayat tersebut berbunyi :
وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا
2. Mazhab Hanafi mewajibkan puasa tiga hari
berturut-turut sebagai kafarah sumpah, juga berdasarkan kepada qiraat Ibn
Mas’ud dalam surat al-Maidah ayat 89, yang berbunyi:
فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ متتلبعات
Artinya :
………. Barangsiapa tidak sanggup melakukan demikian,
maka kafaratnya puasa selama tiga hari berturut-turut ….
Dalam qira>’at yang shahihah ayat tersebut
berbunyi :
فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ
Sya’ban Muhammad Ismail, mengutip pernyataan Abu
‘Ubaid, menyatakan bahwa tujuan sebenarnya dari Qiraat Syaz adalah merupakan
Tafsir dari qiraat shahih (masyhur) dan penjelasan mengenai dirinya. Huruf-huruf
tersebut harakatnya (lafaz Qira>’at Syaz tersebut) menjadi tafsir bagi ayat
al-Qur’an pada tempat tersebut. Hal yang demikian ini, yaitu tafsir mengenai
ayat-ayat tersebut, pernah dikemukakan oleh para Tabi’in, dan ini merupakan hal
yang sangat baik.
Pendapat ini diperkuat dengan pernyataan al-Suyuti,
sebagai berikut :
“Jika penafsiran itu dikemukakan oleh
sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW yang benar, yang kemudian menjadi bagian dari
qiraat al-Qur’an itu sendiri, tentu tafsir ini lebih tinggi nilainya dan lebih
kuat. Mengambil kesimpulan hukum dari penafsiran yang dikemukakan Qira>’at
Syaz ini adalah suatu pengejawantahan yang dapat dipertanggung jawabkan.”
IX. Manfaat Perbedaan Qira>’at
Adanya bermacam-macam qiraat seperti telah
disebutkan di atas, mempunyai berbagai manfaat, yaitu :
1. Meringankan umat Islam dan mudahkan mereka untuk
membaca al-Qur’an. Keringanan ini sangat dirasakan khususnya oleh penduduk Arab
pada masa awal diturunkannya al-Qur’an, dimana mereka terdiri dari berbagai
kabilah dan suku yang diantara mereka banyak terdapat perbedaan logat, tekanan
suara dan sebagainya. Meskipun sama-sama berbahasa Arab. Sekiranya al-Qur’an
itu diturunkan dalam satu qiraat saja maka tentunya akan memberatkan suku-suku
lain yang berbeda bahasanya dengan al-Qur’an.
2. Menunjukkan betapa terjaganya dan terpeliharanya
al-Qur’an dari perubahan dan penyimpangan, padahal kitab ini mempunyai banyak
segi bacaan yang berbeda-beda.
3. Dapat menjelaskan hal-hal mungkin masih global
atau samar dalam qiraat yang lain, baik qira>’at itu Mutawatir, Masyhur
ataupun Syadz. Misalnya qira>’at Syadz yang menyalahi rasam mushaf Usmani
dalam lafaz dan makna tetapi dapat membantu penafsiran, yaitu lafaz (فامضوا)
sebagai ganti dari lafaz (فَاسْعَوْا) pada Q.S. al-Jumu’ah (62): 9:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ
مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ….
Yang dimaksud dengan (فَاسْعَوْا) di sini adalah
bukan berjalan cepat-cepat dan tergesa-gesa, tetapi bersegera pergi ke masjid
dan berjalan dengan tenang.
4. Bukti kemukjizatan al-Qur’an dari segi kepadatan
maknanya, karena setiap qiraat menunjukkan suatu hukum syara’ tertentu tanpa
perlu adanya pengulangan lafaz.
5. Meluruskan aqidah sebagian orang yang salah,
misalnya dalam penafsiran tentang sifat-sifat surga dan penghuninya dalam Q.S.
al-Insan (76): 20 :
وَإِذَا رَأَيْتَ ثَمَّ رَأَيْتَ نَعِيمًا وَمُلْكًا كَبِيرًا
Dalam qira>’at lain dibaca (مَلِكًا) dengan
memfathahkan mim dan mengkasrahkan lam, sehingga qira>’at ini menjelaskan
qira>’at pertama bahwa orang-orang mukmin akan melihat wajah Allah di
akhirat nanti.
6. Menunjukkan keutamaan dan kemuliaan umat Muhammad
SAW atas umat-umat pendahulunya, karena kitab-kitab yang terdahulu hanya turun
dengan satu segi dan satu qiraat saja, berbeda dengan al-Qur’an yang turun
dengan beberapa qiraat.
X. Kesimpulan
Dari pembahasan tentang qiraat di atas dapat diambil
beberapa kesimpulan, sebagai berikut :
1. Qira>’at Sab’ah bukanlah Sab’atu ahruf, tetapi
qira>’at Sab’ah adalah qira>’at yang diriwayatkan oleh para imam qiraat
yang tujuh orang, dan merupakan bagian dari Sab’atu Ahruf.
2. Qira>’at ‘Asyarah adalah shahih dan sanadnya
bersambung sampai kepada Rasulullah SAW, maka boleh membaca al-Qur’an dengan
qiraat manapun diantara salah satu dari yang sepuluh itu, di luar itu adalah
Qiraat Syadz serta tidak boleh dipakai untuk membaca al-Qur’an.
3. Qira>’at, baik shahih maupun syadz, dapat
dipakai untuk menetapkan hukum syar’i, sebagaimana pendapat jumhur ulama.
4. Umat Islam sangat mementingkan masalah al-Qur’an
beserta qiraatnya yang bermacam-macam itu sehingga banyak ulama mengkhususkan
diri dalam maslah qiraat dengan mendalaminya, mengajarkannya dan menulis
kitab-kitab tentang qiraat. Hal ini merupakan salah satu upaya untuk menjaga
kemurnian al-Qur’an.
5. Perbedaan qira>’at yang ada mempunyai banyak
manfaat bagi umat Islam, terutama dalam memudahkan membaca al-Qur’an dan
mengambil hukum dari al-Qur’an.Muhammad Hidayat Noor
DAFTAR PUSTAKA
AF., Hasanuddin. Perbedaan Qiraat dan Pengaruhnya terhadap Istinbath Hukum
dalam Al-Qur'an. Jakarta: Rajawali Press. 1995.
Akaha. Abduh Zulfidar. al-Qur’an dan Qiraat.
Jakarta: Pustaka Al Kautsar. 1996.
Al-Banna. Ahmad bin Muhammad. It-hafu Fudhalaai
al-Basyar bi al-Qiraat al-Arba’i ‘Asyara. Jilid I.Beirut: ‘Alam al-Kutub. 1987.
Ismail. Sya’ban Muhammad. al-Qiraatu Ahkamuha wa
Mashdaruha Terj. Husin Al Munawar dkk. Semarang: Dina Utama. 1993
Al-Qat}t}a>n. Manna’. Maba>his fi>
‘Ulu>m al-Qur’a>n. Beirut: Mansuyrat al-‘Ashr al-Hadis. 1979.
Al-Sabuni. Muhammad ‘Ali. al-Tibyan fi> ‘Ulu>m
al-Qur’a>n. Beirut: Daral-Fikr. t.th.
Al-Salih. Subhi. Maba>his fi ‘Ulu>m
al-Qur’a>n. Beirut: Da>r al-‘Ilm lil Malayin. 1988.
Ash-Shiddieqy. M. Hasbi. Sejarah dan Pengantar Ilmu
al-Qur’an/Tafsir Jakarta: Bulan Bintang. 1989.
Al-Suyuti, Jalaluddin. al-Itqa>n fi> ‘Ulu>m
al-Qur’a>n. Jilid I. Beirut: Da>r al-Fikr, 1979.
Al-Zarqani. Mana>hil al-‘Irfa>n fi>
‘Ulu>m al-Qur’a>n. Jilid I Kairo : Isa al-Babi al-Halabi. t.th.